Kegiatan Khusus (Special Events)
9 Maret 2012, 4:40 pm
Filed under: Uncategorized

Menyelenggarakan acara atau kegiatan khusus (Special Event) dalam Public Relations merupakan salah satu kiat untuk menarik perhatian media pers dan publik terhadap perusahaan atau produk tertentu yang akan ditampilkan dalam acara tersebut.

Special Event adalah sebuah event yang biasanya dilaksanakan untuk mendapatkan perhatian pada media untuk klien, perusahaan atau produk

Event tersebut juga dapat didesain untuk mentransfer pesan spesifik tentang produk anda contohnya, fakta yang menunjukan bahwa perusahaan tersebut memberikan kesempatan yang sama kepada semua pekerja, perusahaan tersebut merupakan tempat yang tepat untuk bekerja, bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial, merupakan tetangga yang baik memberikan tempat pada kemajuan wanita, memproduksi produk berkualitas nomor satu atau perusahaan tersebut merupakan pembayar pajak yang patuh. Sebuah Special Event dapat juga berupa peluncuran produk atau publisitas produk.

 

Rachmat Kriyantono (2008:27) menyampaikan bahwa Arti Special Event menurut istilah lain sebagai berikut:

  1. Special, atau spesial berarti sesuatu yang “istimewa”, pengecualian (khas) dan tidak umum.
  2. Event, Suatu kejadian penting atau peristiwa khusus, baik yang terjadi secara internal, lokal, maupun naional dan bahkan berkaitan dengan suatu peristiwa (event) secara internasional.

Pengertian Event of Public Relations adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memperkenalkan produk, progam maupun organisasi kepada khalayak dengan Public Relations sebagai motornya.

 

Special Event yaitu peristiwa khusus tersebut secara garis besarnya terdapat tiga jenis kegiatan dalam Public Relations, yaitu:

  • Acara suatu peresmian
  • Acara peringatan tertentu
  • Acara Komersial (new product launching) atau Non Komersial (Social Community Relations)  

Fungsi Special Event

  • Untuk memberikan secara langsung (bertatap muka) dan mendapatkan hubungan timbal balik yang positif dengan publiknya melalui progam kerja atau acara khusus yang sengaja dirancang dan dikaitkan dengan event (perhatian khusus).
  • Sebagai media komunikasi dan sekaligus untuk mendapatkan publikasi dan akhirnya media massa atau publik sebagai target sasarannya akan memperoleh pengenalan, pengetahuan, pengertian yang mendalam dan diharapkan dari acara khusus tersebut dapat menciptakan citra positif terhadap perusahaan atau lembaga / produk yang diwakilinya.

 Tujuan Special Event

Tujuan Special Event :

  • Pengenalan (awareness) mendapat dukungan publik atau media pers dan meningkatkan pengetahuan (knowledge) terhadap lembaga / perusahaan dan produk yang ditampilkan.
  • Suatu proses publikasi melalui komunikasi timbal balik yang pada akhirnya akan memperoleh publisitas yang positif

Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Event

Adapun prinsip-prinsip penyelenggaraan event menurut Rachmat Kriyantono (2008:39) yang ada adalah sebagai berikut:

  • Perencanaan

Menetapkan rencana kegiatan, baik secara konsep maupun teknis berdasarkan observasi mengenai kegiatan tersebut serta memprediksi hasil yang dicapainya.

  • Maksud dan tujuan

Mengidentifikasikan maksud yang ingin dicapai sesuai skala prioritas organisaisi dan menetapkan tujuan jangka pendek serta jagka panjang yang disesuaikan dengan visi dan misi organisasi.

  • Anggaran

Membuat rancangan biaya yang digunakan untuk mengadakan kegiatan tersebut yang disesuaikan dengan kondisi keuangan organisasi dan menjalin kerjasama dengan sponsor yang dilibatkan memperkecil resiko biaya.

  • Pengawasan

Melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghindari hal-hal yang keluar dari tujuan atau ada ketidaksesuaian pada proses pelaksaan dengan perencanaan yang dibuat sebelumnya.

Iklan


Bank dan Nasabah
29 Februari 2012, 8:54 am
Filed under: Uncategorized | Tag: ,

Bisnis perbankan di Indonesia mulai muncul sekitar tahun 1960-an, tetapi bisnis perbankan ini belum terlaulu dikenal oleh rakyat Indonesia. Sekitar tahun 1980-an keadaan mulai berubah dimana perbankan mulai aktif dalam mencari nasabah. Dengan munculnya paket 27 Oktober 1988, dunia perbankan di Indonesia mulai pesat, ini ditandai dengan banyak berdirinya bank swasta nasional.

Akan tetapi dunia perbankan pada awal 1997 mulai suram. Ini terjadi di akibatkan karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Banyak bank yang dilikuidasi atau ditutup operasionalnya, dan ada juga bank yang dimerger atau digabungkan. Penutupan bank-bank ini dikarenakan karena hutang yang sudah jatuh tempodan juga dengan menajemen yang buruk.

Dengan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah seperti melikuidasi atau memerger bank-bank, maka itu merupakan awal dari suatu perkembangan perbankan di Indoneisia dan itu semua memang sudah berjalan dan perbankan di Indonesia pada saat ini sudah menunjukkan perkembangannya yang cukup pesat. Hal tersebut ditandai dengan terbukanya laporan keuangan bank yang diwajibkan pemerintah dipublikasikan di media masa.

Pengertian Bank
Pada dasarnya Bank adalah lembaga keuangan yang melayani kebutuhan masyarakat, baik untuk menyimapn uang, meminjam uang dan jasa pelayanan lalu lintas pembayaran baik dalam negeri maupun luar negeri.
Menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang perbankan, menetapkan bahwa “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannnya dalam bentuk kredit dan atau dalam bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak” (UU RI No. 10 / 1998 Tentang Perubahan UU RI No.7 / 1992 Tentang Perbankan, pasal 1 ayat 1).

Menurut Jopie Jusuf dalam bukunya Panduan Dasar untuk Account Officer menjelaskan bahawa “Bank adalah lembaga perantara antara sektor yang kelebihan dana (surplus) dan sektor yang kekurangan dana (minus)”. (2004:1)
Kemudian menurut A. Abdurahman dalam bukunya Ensiklopedia Ekonomi Keuangan dan Perdagangan Lainnya menerangkan bahwa :
Bank adalah sutau jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai perusahaan-perusahaan, dan lain-lain. (1999:7)

G.M Verry Stuart dalam bukunya ˝Bank Politik˝ yang dikutip oleh Thomas Suyatno mengemukakan bahwa :
Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri maupun dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat penukar baru berupa uang giral. (1999:1)

Kasmir dalam bukunya ˝Dasar-dasar Perbankan˝ menerangkan bahwa ˝Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa lainnya˝. (2002 : 2)

Amsa Barata mengemukakan pengertian bank dalam bukunya “Dasar-Dasar Perbankan” bahwa :
Bank adalah suatu lembaga keuangan ynag pada pokoknya berusaha memberikan pelayanan kepada semua pihak dalam bidang penyediaan jasa pengelolaan dana, lalu lintas pembayaran, peredaran uang dan pemberian kredit, baik dengan menggunakan modalnya sendiri maupun dana-dana yang dikumpulkan dari pihak ketiga.(1994 : 74)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya mengumpulkan dana dengan menarik dana dari masyarakat berupa tabungan, deposito, giro dan lain-lain, dan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

Pengertian Nasabah
Arti nasabah pada lembaga perbankan sangat penting. Nasabah itu ibarat nafas yang sangat berpengaruh terhadap kelanjutan suatu bank. Oleh karena itu bank harus dapat menarik nasabah sebanyak-banyaknya agar dana yang terkumpul dari nasabah tersebut dapat diputar oleh bank yang nantinya disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan bank.

Menurut Djaslim Saladin dalam bukunya ˝Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran Bank˝ yang dikutip dari ˝Kamus Perbankan˝ menyatakan bahwa ˝Nasabah adalah orang atau badan yang mempunyai rekening simpanan atau pinjaman pada bank˝. (Saladin, 1994).

Komaruddin dalam ˝Kamus Perbankan˝ menyatakan bahwa ˝Nasabah adalah seseorang atau suatu perusahaan yang mempunyai rekening koran atau deposito atau tabungan serupa lainnya pada sebuah bank˝. (Komaruddin, 1994).

Dari pengertian di atas penulis memberikan kesimpulan bahwa “Nasabah adalah seseorang ataupun badan usaha (korporasi) yang mempunyai rekening simpanan dan pinjaman dan melakukan transaksi simpanan dan pinjaman tersebut pada sebuah bank“.

sumber :
Abdurachman, A, 1999, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Lainnya, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.
Barata Amsa, 1994, Dasar-Dasar Perbankan, Bandung : CV. ARMICO.
Kasmir, 2002, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Komaruddin, 1994, Kamus Perbankan, Jakarta : CV. Rajawali.
Lapoliwa, N, 2000, Akuntansi Perbankan, Institut Bankir Indonesia.
Saladin Djaslim, 1994, Dasar-dasar Manajemen Pemasaran Bank, Jakarta : CV Rajawali.
Suyatno Thomas, 1999, Kelembagaan Perbankan, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tatang S. Herisman, 2004, Transaksi Operasional Bank Konvensional, Bandung : Politeknik Pajajaran.
Undang-undang Perbankan No. 10 1998, Jakarta
Jusuf Jopie, 2004, Panduan Dasar untuk Account Officer, Jakarta : Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.
http://www.wikipedia.com



ARSIP
25 Februari 2012, 5:55 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: , ,

Apakah Yang Dimaksud dengan ARSIP?

Menurut Wursanto (2001:13), “arsip dapat diartikan sebagai kumpulan dokumen tulisan atau gambar-gambar yang disimpan untuk tujuan-tujuan ilmiah praktis”.

Pengertian tadi sejalan dengan yang diungkapkan oleh Sedarmayanti (2003:9) bahwa, “arsip adalah kumpulan warkat yang disimpan secara teratur berencana karena mempunyai suatu kegunaan agar setiap kali diperlukan dapat cepat ditemukan kembali”.

Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1971, arsip adalah :

  1. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga-lembaga dan Badan-badan Pemerintahan dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun kelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.
  2. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta atau perorangan, dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun kelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.

Maulana (2003:23) mengatakan : “arsip adalah metode atau cara untuk membantu memberikan penjelasan dan keterangan kepada petugas yang harus menyelenggarakan dan menyelesaikan semua persoalan yang belum selesai”. Sedangkan menurut Schellenberg yang dikutip The Liang Gie (2002:18),  “arsip adalah warkat-warkat dari suatu badan pemerintah atau swasta yang diputuskan sebagai dokumen berharga untuk diawetkan secara tetap, guna keperluan mencari keterangan-keterangan dan penelitian dan disimpan atau telah dipilih untuk disimpan pada suatu badan kearsipan”.

Arsip ditinjau dari sudut hukum dan perundang-undangan no 9 tahun 1971, adalah sebagai berikut:

  • Arsip otentik adalah arsip yang diatasnya terdapat tanda tangan asli dengan tinta (bukan fotokopi/film) sebagai tanda keabsahan dari isi yang bersangkutan.
  • Arsip tidak otentik yaitu arsip yang diatasnya tidak terdapat tanda tangan asli dengan tinta. (Berupa fotokopi, salinan, dan lain-lain). Pekerjaan pengurusan arsip yang meliputi pencatatan, pengendalian, dan pendistribusian, penyimpanan, pemeliharaan, pengawasan, pemindahan dan pemusnahan arsip-arsip yang disebut manajemen kearsipan

 Apakah Fungsi Arsip ??

Arsip dapat dibedakan menjadi 2 macam menurut Wursanto (2001:28) yaitu: Arsip dinamis, yaitu arsip yang masih dipergunakan secara langsung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari, dan Arsip statis yaitu arsip yang sudah tidak dipergunakan secara langsung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari.

Bagaimanakah menyimpan Arsip itu?

Menurut Amsyah (2000:71), “penyimpanan arsip adalah pekerjaan yang dilaksanakan pada penyimpanan sebuah surat agar penemuan surat yang sudah disimpan dapat dilakukan dengan cepat apabila surat tersebut sewaktu-waktu diperlukan”.

Menurut Amsyah (2000:64), langkah-langkah penyimpanan arsip terdiri dari:

  • Memeriksa. Langkah ini adalah langkah persiapan menyimpan warkat dengan cara memeriksa setiap lembar warkat untuk memperoleh kepastian bahwa warkat-warkat bersangkutan memang sudah siap untuk disimpan.
  • Mengindeks, yaitu pekerjaan menentukan pada nama apa atau subjek apa, atau kata tangkap (caption)  lainnya surat akan disimpan.
  • Memberi tanda, dilakukan secara sederhana yaitu dengan memberi tanda garis atau lingkaran dengan warna mencolok pada kata tangkap yang sudah ditentukan pada langkah pekerjaan mengindeks.
  • Menyortir, yaitu mengelompokkan surat-surat untuk persiapan ke penyimpanan.
  • Menyimpan, yaitu menyimpan arsip sebaiknya pada tempat yang sudah disediakan khusus untuk arsip-arsip agar mudah dicari dan tidak kelihatan menumpuk.

Adapun Sistem penyimpanan arsip dikemukakan oleh  Moekijat (2002:94), sebagai berikut :

Ada 5 macam sistem penyimpanan arsip yang dapat dipakai sebagai sistem penyimpanan yang standar, yaitu:

  • Sistem abjad (alphabetical system)

Adalah penggolongan dimana dokumen-dokumen disimpan menurut huruf-huruf yang pertama dari nama orang atau organisasi.

  • Sistem nomor (numbering system)

Adalah penggolongan dimana tiap dokumen atau map diberi nomor dan disimpan menurut urutan nomor.

  • Sistem geografis (geography system)

Adalah penggolongan dimana surat-surat atau arsip-arsip dibagi menurut letak wilayah.

  • Sistem subyek (subject system)

Adalah penggolongan dimana dokumen-dokumen disusun menurut pokok soal bukan menurut nama perusahaan, koresponden-koresponden dan sebagainya.

  • Sistem Tanggal/kronologis (chronology system)

Adalah penggolongan dimana tiap dokumen-dokumen disimpan menurut urutan tanggal.

Sumber :

Amsyah, Zulkifli. 2000. Manajemen Kearsipan. Jakarta: PT Gramedia.

Atmosudirjdo. 2000. Administrasi dan Manajemen Umum. Jakarta: Seri Pustaka Ilmu Administrasi.

Barthos, Basir. 2003. Manajemen Kearsipan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hasibuan, Malayu. 2002. Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah. Jakarta: Haji Masagung.

Maulana. 2003. Administrasi Kearsipan. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.

Moekijat. 2002. Tatalaksana Kantor. Bandung: Alumni.

Sedarmnayanti. 2003. Kearsipan. Bandung: Mandar Maju.

Siagian, Sondang. 2001. Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

Widjaja. 2003. Adminstrasi Kearsipan Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Wursanto, Ignatius. 2001. Kearsipan Perkantoran. Yogyakarta: Kanisius.

Gie, Liang.2002. Kesekretarisan dan Adminstrasi Perkantoran. Jakarta:ghalia Indonesia.

UU Nomor 7 Tahun 1971 tentang “Penyusutan Arsip”



Corporate Social Responsibility (CSR)
25 Februari 2012, 4:09 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: , ,

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan tanggung jawab sosial yang diberikan perusahaan kepada masyarakat. Pada saat ini, banyak perusahaan yang melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam kegiatan bisnis mereka.

Dari sisi estimologis Corporate Social Responsibility (CSR) kerap diterjemahkan sebagai “tanggung jawab sosial perusahaan (TSP)” dalam konteks lain, CSR kadang disebut juga “tanggung jawab sosial dunia usaha (tansodus)” yang menarik , sebagai sebuah konsep yang makin popular, CSR ternyata belum memiliki defenisi yang tunggal. Namun demikian, konsep ini menawarkan sebuah kesamaan, yaitu keseimbangan antara perhatian aspek ekonomis dan perhatian terhadap aspek sosial serta lingkungan.

Menurut Suhandari M. Putri dalam artikelnya Schema CSR dalam Kompas, 4 Agustus 2007 yang dikutip oleh DR. Hendrik Budi Untung,S.H.,C.N.,M.M dalam bukunya “Corporate Social Responsibility” (2008:1),

”Corporate Social Responsibility adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial dan lingkungan”.

Secara lebih teoritis dan sistematis, konsep piramida tanggung jawab sosial perusahaan dikembangkan Archie B. Carrol member justifikasi logis mengapa sebuah perusahaan perlu menerapkan TSP bagi masyarakat disekitarnya (Saidi dan Abidin, 2004 :59). Sebuah perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab ekonomis, melainkan pula tanggung jawab legal, etis, dan filantrofis.

  1. Tanggung jawab ekonomis, kata kuncinya adalah: make a profit. Motif utama perusahaan adalh menghasilkan laba. Laba adalah fondasi perusahaan. Perusahaan harus memiliki nilai tambah ekonomi sebagai prasyarat agar perusahaan dapat hidup terus (survive) dan berkembang.
  2. Tanggung jawab legal, kata kuncinya : obey the law. Perusahaan  harus taat hukum. Dalam proses mencari laba, perusahaan tidak boleh melanggar kebijakan dan hukum yang telah ditetapkan pemerintah.
  3. Tanggung jawab etis, kata kuncinya : be ethical. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menjalankan praktek bisnis yang baik, benar, adil, dan fair. Norma-norma masyarakat perlu menjadi rujukan bagi perilaku organisasi perusahaan.
  4. Tanggung jawab filantropis, kata kuncinya : be a good citizen. Selain perusahaan harus memperoleh laba, taat hukum dan berperilaku etis, perusahaan dituntut agar dapat member kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan semua. Para pemilik dan pegawai yang bekerja di perusahaan memiliki tanggung jawab ganda, yakni kepada perusahaan dan kepada publik yang dikenal dengan istilah nonfiduciary responsibility.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Corporate Social Responsibility

Menurut Yusuf Wibisono dalam bukunya Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (2007:7), implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Komitmen pimpinannya

Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah sosial, jangan diharap akan memedulikan aktivitas sosial

  • Ukuran dan kematangan sosial

Perusahaan besar dan mapan lebih mempunyai potensi member kontribusi ketimbang perusahaan kecil dan belum mapan.

  • Regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah

Semakin amburadul regulasi dan penataan pajak akan membuat semakin kecil ketertarikan perusahaan untuk memberikan donasi dan sumbangan sosial kepada masyarakat. Sebaliknya, semakin kondusif regulasi atau semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkontribusi kepada masyarakat.

 Prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility

Menurut Prof. Alyson Warshut dari University of Bath Inggris (1998) yang dikutip oleh Yusuf Wibisono dalam bukunya Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (2007:39), mengajukan prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai berikut :

  • Prioritas Korporat

Mengakui tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi korporat dan penentu utama pembangunan berkelanjutan. Dengan begitu korporat bisa membuat kebijakan, program dan praktek dalam menjalankan bisnisnya dengan cara yang bertanggungjawab secara sosial.

  • Manajemen Terpadu

Mengintegrasikan kebijakan, program dan praktek ke dalam setiap kegiatan bisnis sebagai salah satu unsur manajemen dalam semua fungsi manajemen.

  • Proses Perbaikan

Secara berkesinambungan memperbaiki kebijakan, program dan kinerja sosial korporat, berdasar temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan sosial serta menerapkan kriteria sosial tersebut secara internasional.

  • Pendidikan Karyawan

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta memotivasi karyawan.

  •  Pengkajian

Melakukan kajian dampak sosial sebelum memulai kegiatan atau proyek baru dan sebelum menutup satu fasilitas atau meninggalkan lokasi pabrik.

  • Produk dan Jasa

Mengembangkan produk dan jasa yang tak berdampak negative secara sosial.

  • Informasi Publik

Memberi informasi dan (bila diperlukan) mendidik pelanggan, distributor dan publik tentang penggunaan aman, transportasi, penyimpanan dan pembuangan produk, dan begitu pula dengan jasa.

  • Fasilitas dan Operasi

Mengembangkan, merancang, dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan yang mempertimbangkan temuan kajian dampak sosial.

  • Penelitian

Melakukan atau mendukung penelitian dampak sosial bahan baku, produk, proses, emisi, dan limbah yang terkait dengan kegiatan usaha dan penelitian yang menjadi sarana untuk mengurangi dampak negatif.

  •  Prinsip Pencegahan

Memodifikasi manufaktur, pemasaran atau penggunaan produk atau jasa, sejalan dengan penelitian mutakhir, untuk mencegah dampak sosial yang bersifat negatif.

  • Kontraktor dan Pemasok

Mendorong penggunaan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial korporat yang dijalankan kalangan kontraktor dan pemasok, disamping itu bila diperlukan mensyaratkan perbaikan dalam praktis bisnis yang dilakukan kontraktor dan pemasok.

  • Siaga menghadapi darurat

Menyusun dan merumuskan rencana menghadapi keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya bekerjasama dengan layanan gawat darurat, instansi berwenang dan komunitas lokal. Sekaligus mengenali potensi bahaya yang muncul.

  • Transfer Best Practice

Berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik.

  • Memberi sumbangan

Sumbangan untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah serta lembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab sosial.

  •  Keterbukaan

Menumbuhkembangkan keterbukaan dan dialog dengan pekerja dan publik, mengantisipasi dan member respon terhadap potential hazard, dan dampak operasi, produk, limbah atau jasa.

  • Pencapaian dan Pelaporan

Mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berkala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan perundang-undangan dan menyampaikan informasi tersebut pada dewan direksi, pemegang saham, pekerja, publik.

 

Bidang-bidang Corporate Social Responsibility

Bidang-bidang Corporate Social Responsibility (CSR) yang disarikan dari beberapa perusahaan terkemuka yang dikutip oleh Yusuf Wibisono dalam bukunya Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (2007:139) antara lain :

  1. Bidang Sosial antara lain :
    1. Pendidikan/Pelatihan
    2. Kesehatan
    3. Kesejahteraan Sosial
    4. Kepemudaan/Kewanitaan
    5. Keagamaan
    6. Kebudayaan
    7. Penguatan kelembagaan
    8. Dan lain-lain
    9. Bidang Ekonomi antara lain:
      • Kewirausahaan
      • Pembinaan UKM
      • Agribisnis
      • Pembukaan lapangan kerja
      • Sarana dan Prasarana ekonomi
      • Usaha produktif lainnya

10. Bidang Lingkungan antara lain:

        • Penggunaan energi secara efisien
        • Proses Produksi yang ramah lingkungan
        • Pengendalian polusi
        • Penghijauan
        • Pengelolaan air
        • Pelestarian alam
        • Pengembangan ekowisata
        • Penyehatan lingkungan
        • Perumahan dan pemukiman

Tahap-Tahap Penerapan Corporate Social Responsibility

Menurut Yusuf Wibisono dalam bukunya yang berjudul Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (2007:127), tahap-tahap penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah :

  1. Tahap Perencanaan
  2. Tahap Implementasi
  3. Tahap Evaluasi
  4. Pelaporan

 

Sumber :

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Irianta, Yosal. 2004. Community Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jefkin, Franks. 1992. Public Relations edisi keempat, Alih Bahasa: Haris Munandar, Jakarta: Erlangga.

Kriyantono, Rachmat. 2008. Public Relations Writing. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianti. 2003. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Untung, Hendrik Budi.2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Grafika Offset.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing.

 



Citra
21 Februari 2012, 12:48 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: ,

 Citra merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perusahaan. Setiap perusahaan berlomba-lomba untuk membuat event atau kegiatan yang dapat mempositifkan citra perusahaan mereka. Berikut adalah beberapa pengertian mengenai defenisi citra.

Pengertian citra menurut Hill Canton dalam Sukatendel (1990) yang dikutip lagi oleh Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto dalam bukunya dasar-dasar Public Relations (2003:111) mengatakan bahwa citra adalah perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan, kesan yang sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi.

Citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorangan, suatu komite, atau aktivitas (Katz, 1994:76) yang dikuti lagi oleh Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto dalam bukunya Dasar-dasar Publik Relations (2003:113).

Proses Pembentukan Citra

Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan pengertian sistem komunikasi dijelaskan oleh John S. Nimpoeno dalam laporan penelitian tentang tingkah laku konsumen, seperti yang dikutip dari Danasaputra dan dikutip lagi oleh Soleh Soemirat dan Elvinaro dalam bukunya Dasar-dasar Public Relations (2003:115) yaitu sebagai berikut :

Public Relations digambarkan sebagai input-output, proses intern dalam model ini adalah pembentukan citra, sedangkan input adalah stimulus yang diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendiri digambarkian melalui persepsi-kognitif-motivasi-sikap”.

Jenis-jenis Citra

Menurut Frank Jefkins, dalam bukunya Public Relations (1992:17) yang mengemukakan jenis-jenis citra adalah :

Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini sering tidak tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan atau pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. Melalui penelitian yang mendalam akan segera terungkap bahwa citra bayangan itu hampir selalu tidak tepat, atau tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya.

Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya, bahkan jarang sesuai dengan kenyataan karena semata-mata terbentuk  dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang bersangkutan yang biasanya tidak memadai. Citra ini sepenuhnya  ditentukan oleh banyak sedikitnya informasi yang dimiliki oleh penganut atau mereka yang mempercayainya.

Citra Keinginan (Wish Image) Manajemen menginginkan pencapaian prestasi tertentu. Citra ini diaplikasikan untuk sesuatu yang baru sebelum publik eksternal memperoleh informasi secara lengkap.

Citra Perusahaan (Corporate Image), Jenis citra ini adalah yang berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai  tujuan utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan yang positif, lebih dikenal serta diterima oleh publiknya, mungkin tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima.

Untuk mengetahui bagaimana citra suatu perusahaan atau lembaga dibenak publiknya dibutuhkan adanya suatu penelitian. Melalui penelitian, perusahaan dapat mengetahui secara pasti sikap publik terhadap lembaganya, mengetahui apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh publiknya. Dengan melakukan penelitian pula maka terbentuklah opini publik yang merupakan salah satu faktor dari terbentuknya citra pada suatu perusahaan.

Unsur-unsur Citra Perusahaan

Citra suatu perusahaan merupakan akumulasi dari citra unsur-unsurnya yaitu citra produk, citra sumber daya manusia (SDM) dan budaya, citra sistem dan aturan main yang ada dalam perusahaan serta citra kinerja bisnis. Faktor-faktor ini saling terkait. Terkadang ini merupakan rangkaian sebab akibat yang apabila sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama akan menjadi susah untuk diidentifikasi, mana yang duluan menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat.

SDM tidak bagus membuat produk berkualitas rendah. Produk kualitas rendah tidak laku dipasaran sehingga membuat kinerja bisnis menurun. Kinerja bisnis menurun memperngaruhi kesejahteraan pekerja. Kesejahteraan turun biasanya membuat kinerja SDM menurun.

sumber :

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Irianta, Yosal. 2004. Community Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jefkin, Franks. 1992. Public Relations edisi keempat, Alih Bahasa: Haris Munandar, Jakarta: Erlangga.

Kriyantono, Rachmat. 2008. Public Relations Writing. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianti. 2003. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Untung, Hendrik Budi.2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Grafika Offset.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing.



Community Relation
21 Februari 2012, 12:46 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: ,

Menurut Gregory yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam bukunya Community Relations (2004:21), Community Relation atau hubungan komunitas adalah hubungan bisnis yang saling menguntungkan dengan satu atau lebih stakeholders, untuk meningkatkan reputasi perusahaan menjadi sebuah perusahaan yang baik bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaan fungsi humas, komunitas lokal dipandang sebagai suatu kesatuan dengan perusahaan yang memberi manfaat timbal balik. Prinsip kegiatan humas adalah mengharmonisasikan hubungan antara perusahaan beserta manajer dan karyawannya dengan masyarakat di sekitar perusahaan. Hubungan yang harus dibina oleh humas tidak hanya hubungan jangka pendek, tetapi juga hubungan jangka panjang. Hubungan timbal balik dengan rasa memiliki dibutuhkan oleh perusahaan agar perusahaan memperoleh dukungan komunitas.

Community relations pada dasarnya adalah kegiatan public relations. Mengingat community relations berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan sosial yang nyata yang dihadapi komunitas sekitar organisasi. Melalui pendekatan community relations itu, organisasi bersama-sama dengan komunitas sekitarnya berusaha untuk mengidentifikasi, mencari solusi dan melaksanakan rencana tindakan atas permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini, fokusnya adalah permasalahan yang dihadapi komunitas. Bukan permasalahan yang dihadapi organisasi. Namun dampak dari penyelesaian permasalahan yang dihadapi komunitas itu akan dirasakan juga oleh organisasi, mengingat program-program community relations pada dasarnya dikembangkan untuk kesejahteraan bersama organisasi dan komunitas. Karena kegiatan community relations pada dasarnya adalah kegiatan public relations, maka program dan kegiatan community relations organisasi akan melalui tahap-tahap proses public relations yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam Community Relations (2004:14) sebagai berikut :

  1. Pengumpulan Fakta
  2. Perumusan Masalah
  3. Perencanaan dan Pemrograman
  4.  Aksi dan Komunikasi
  5. Evaluasi

Menjaga hubungan dengan komunitas lokal atau community relations adalah juga bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan.

Perubahan praktik organisasi dalam menjalankan bisnis dan tekanan sosial pada organiasasi bisnis untuk memainkan peran yang menunjukkan tanggung jawab sosial, sesungguhnnya  melahirkan sejumlah manfaat bagi kedua belah pihak. Praktik community relations yang terfokus pada kegiatan filsantropis sebelumnya dipandang hanya memberikan manfaat bagi komunitas saja sedangkan bagi organisasi dipandang sebagai beban biaya. Tidak ada pandangan, pada waktu itu, bahwa membantu komunitas merupakan investasi yang penting bagi organisasi. Karena organisasi bisnis sebagai satu organisme tentu harus berelasi dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut Rogovsky yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam Community Relations (2004 : 69) menyusun sebuah tabel tentang manfaat keterlibatan komunitas organisasi bisnis seperti tampak pada tabel berikut :

Manfaat Keterlibatan Komunitas Organisasi

Komunitas pada Organisasi

Organisasi pada Komunitas

1. Reputasi dan citra organisasi yang lebih baik.2. “Lisensi untuk beroperasi” secara sosial.3.Memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja lokal.4.Keamanan yang lebih besar.Infrastruktur dan lingkungan sosio-ekonomi yang lebih baik.5.Menarik dan menjaga personel berkaliber tinggi untuk memiliki komitmen yang tinggi.

6.Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa dan mungkin pelanggan lokal yang bermutu.

7.“Laboratorium pembelajaran” untuk inovasi organisasi.

1.Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman kerja dan pelatihan.2.Pendanaan investasi komunitas, pengembangan infrastruktur.3.Keahlian komersial.4.Kompetensi teknis dan personal individual pekerja yang terlibat.5.Representatif bisnis sebagai juru promosi bagi prakarsa-prakarsa komunitas.

Sumber : Rogovsky (2000:5) yang dikutip Yosal Irianta (2004:70)

Kita bisa melihat lebih jauh mengenai manfaat community relations dalam tanggung jawab sosial korporat ini pada kasus perusahaan ritel termasyur, Marks & Spencer. Program community relations yang dijalankan lembaga ini adalah keterlibatan karyawan dalam program-program komunitas baik atas penugasan perusahaan maupun dilakukan secara sukarela. Menurut Rogovsky yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam Community Relations (2004 : 69) manfaat program community relations adalah :

  1. Manfaat bagi individu pegawai
    1. Belajar metode alternatif dalam berbisnis
    2. Menghadapi tantangan pengembangan dan bisa berprestasi dalam lingkungan baru
    3. Mengembangkan keterampilan  yang ada dan keterampilan baru
    4. Memperbaiki pengetahuan perusahaan atas  komunitas lokal dan memberi kontribusi bagi komunitas lokal
    5. Mendapatkan persepsi baru atas bisnis
  2. Manfaat bagi organisasi penerima program
    1. Mendapatkan keahlian dan keterampilan professional yang tak dimiliki organisasi atau tak memiliki dana untuk mengadakannya.
    2. Mendapatkan keterampilan manajemen yang membawa pendekatan yang segar dan kreatif dalam memecahkan masalah.
    3. Memperoleh pengalaman dari organisasi besar sehingga melahirkan pengelolaan organisasi seperti menjalankan bisnis.
  3. Manfaat bagi perusahaan
    1. Memperkaya kapabilitas karyawan yang telah menyelesaikan tugas bekerja bersama komunitas.
    2. Peluang untuk menanamkan bantuan praktis pada komunitas
    3. Meningkatkan pengetahuan tentang komunitas lokal.
    4. Meningkatkan citra dan profil perusahaan karena para karyawan menjadi “duta besar” bagi perusahaan.

Uraian tersebut menunjukkan bahwa manfaat community relations yang dibangun berdasarkan visi tanggung jawab sosial korporat itu memang bisa dipetik kedua belah pihak. Ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan bersama yang dikembangkan melalui berbagai program dari kegiatan PR. Karena itu penting untuk disadari bahwa program-program community relations bukanlah program dari perusahaan untuk komunitas melainkan program untuk  perusahaan dan komunitas.

sumber :

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Irianta, Yosal. 2004. Community Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jefkin, Franks. 1992. Public Relations edisi keempat, Alih Bahasa: Haris Munandar, Jakarta: Erlangga.

Kriyantono, Rachmat. 2008. Public Relations Writing. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianti. 2003. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Untung, Hendrik Budi.2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Grafika Offset.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing.



Marketing Communications (Marcomm)
21 Februari 2012, 12:17 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: , ,

Marketing dan Komunikasi adalah hal terpenting dalam suatu perusahaan karena dengan adanya komunikasi yang baik, maka semua prosedur pekerjaan akan terselesaikan dengan baik termasuk proses Marketing dalam perusahaan tersebut. Berikut ini adalah pengertian Marketing Communications menurut para ahli.

Marketing atau yang dalam Bahasa Indonesia adalah Pemasaran merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam sebuah perusahaan. Menurut salah satu pakar terkemuka dunia dalam bidang Pemasaran, Philip Kotler dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pemasaran Edisi Millenium mengemukakan pengertian Pemasaran yang dibedakan menjadi dua yaitu pengertian secara sosial dan secara manajerial :

Pemasaran secara sosial adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

Untuk pengertian secara manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai “seni menjual  produk“.Pemasaran secara manajerial adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi saran-saran individu dan organisasi.

Dari kedua pengertian di atas terlihat bahwa Pemasaran adalah suatu proses pelaksanaan perencanaan yang diinginkan oleh individu atau perusahaan untuk mempertukarkan produknya baik dalam bentuk barang maupun jasa agar tercipta saling menguntungkan antara pihak satu dan pihak yang lainnya.

Pengertian Marketing berikutnya dikutip dari William J. Stanton dalam buku Fundamentals of Marketing. Marketing yaitu :

Marketing is a system: of business activities

Designed to: plan, price, promote, and distribute

Something of value: want satisfying goods and services

To benefit of: the market present and potential household consumers or industrial user.

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa pemasaran adalah sebuah sistem: dari aktivitas bisnis; desain untuk: rencana, harga, promosi dan distribusi; sesuatu dari nilai kepuasan produk-produk dan pelayanan; keuntungan untuk penawaran pasaran dan memegang potensi konsumen atau pemegang industri.

Marketing memegang peranan penting dalam perusahaan, karena setiap kegiatan Marketing berorientasi terhadap keuntungan perusahaan secara materi. Berikut ini adalah tugas-tugas marketing yang dikemukakan oleh Philip Kotler yang dikutip dari bukunya yang berjudul Manajemen Pemasaran :

  1. Menganalisis mengapa pasar tidak menyukai produk tertentu dan apakah sebuah program pemasaran yang terdiri dari rancangan ulang produk, harga yang lebih rendah dan promosi yang lebih positif dapat mengubah keyakinan dan sikap.
  2. Mencari cara-cara untuk menghubungkan manfaat produk dengan kebutuhan dasar dan minat orang.
  3. Mengukur ukuran pasar potensial dan mengembangkan barang dan jasa yang memuaskan permintaan tersebut secara efektif.
  4. Mengembalikan permintaan yang merosot melalui pemasaran ulang yang kreatif.
  5. Menemukan jalan untuk mengganti pola permintaan melalui penetapan harga yang lentur, promosi dan insentif-insentif lain.
  6. Mempertahankan tingkat permintaan guna menghadapi berubahnya pilihan konsumen dan meningkatnya persaingan.
  7. Menuntut penemuan cara untuk mengurangi permintaan secara sementara atau secara tetap.
  8. Meminta orang yang menyukai sesuatu supaya mau menghentikan permintaan, dengan menggunakan alat-alat kenaikan harga dan pengurangan ketersediaan. (2000:7-8)

Manusia adalah makhluk sosial yang mana dalam kehidupannya saling membutuhkan satu sama lain. Dalam kehidupan sosialnya, manusia membutuhkan cara agar dapat menyampaikan keinginannya kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Cara yang biasa dilakukan untuk menyampaikan sebuah keinginan adalah dengan berkomunikasi.

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata communicare, yang berarti sama.      Pengertian komunikasi menurut Murphy yang penulis kutip dari buku Etika Komunikasi Kantor karangan Drs. Ig. Wursanto mengatakan bahwa “Communications is the whole process used in reaching other minds”. (Komunikasi adalah seluruh proses yang diperlukan untuk mencapai pikiran-pikiran yang dimaksud oleh orang lain).

“Communications is more technically defined as a process for conduction the memories”. (Secara teknis komunikasi didefinisikan sebagai proses untuk membangkitkan perhatian orang lain yang bertujuan untuk menjalin kembali ingatan-ingatan). (1995:31). Pengertian tersebut dikemukakan oleh Harwood yang dikutip dari Drs. Ig. Wursanto dalam bukunya yang berjudul Etika Komunikasi Kantor.

Dari kedua pengertian komunikasi tersebut dapat kita simpulkan bahwa komunikasi adalah proses kegiatan penyampaian pesan/informasi/berita yang memiliki makna atau arti dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi dapat diartikan dengan luas, karena komunikasi tidak hanya terjalin pada manusia saja tetapi dengan makhluk Tuhan lainnya.

Untuk melakukan komunikasi diperlukan komponen-komponen komunikasi itu sendiri. Berikut ini adalah komponen komunikasi yang diutarakan oleh Drs. Ig. Wursanto dalam bukunya Etika Komunikasi Kantor :

  • Pengirim berita (komunikator)

Pihak komuikator harus berusaha untuk mengemukakan hal yang terkandung dalam pikirannya secara jelas kepada pihak yang menerima berita sehingga mudah dan cepat dimengerti. Penyampaian berita harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan pihak yang menerima berita.

  • Bentuk berita (pesan)

Berita dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, misalnya bentuk perintah, instruksi, saran, usul (baik secara lisan maupun tulisan), bentuk pengumuman, edaran, dalam bentuk tulisan, gambar, kode dan lain sebagainya. Isi pesan harus jelas sehingga apa yang dimaksud oleh pengirim berita dapat diterima oleh pihak penerima berita.

  • Penerima berita (komunikan)

Pihak komunikan harus mengadakan tanggapan terhadap berita yang diterima. Penerima berita harus menafsirkan berita yang diterima seperti yang dimaksud oleh pengirim berita.

  • Prosedur pengiriman berita

Prosedur pengiriman berita manyangkut sarana yang dipakai dalam mengirim berita. Sedang sarana yang diperlukan dalam proses komunikasi tergantung dalam sifat berita yang akan disampaikan.

  • Reaksi atau tanggapan (response)

Reaksi yang diberikan oleh pihak penerima berita disebut tanggapan atau response. Ada yang menamakan umpan balik (feedback). Dengan diterimannya response atau dengan adanya feedback dari pihak komunikan, maka akan terjadi komunikasi dua arah. Komunikasi yang demikian disebut two ways traffic atau two ways flow communications. Lawannya disebut komunikasi searah atau one way communication.

Berikut ini beberapa tugas Marcomm adalah sebagai berikut :

  1. Mengkomunikasikan atau mempromosikan produk perusahaan,
  2. Membentuk pangsa pasar yang loyal,
  3. Membentuk citra (image) perusahaan dimata masyarakat,
  4. Membentuk opini publik,
  5. Menunjang program atau rencana perusahaan,

Sumber :

Abdurracman, Oemi. 1995, Dasar-Dasar Public Relations, Bandung : PT Citra Aditya Bakti

Irianti, Yosal. 2007, Community Relations, Bandung : Simbiosa Rekatama Media

J. William, Stanton. 1975, Fundamentals of Marketing Fourth Edition, United States of America : Mc. Graw Hill Koga Kusha, Ltd

Kotler, Philip. 2000, Manajemen Pemasaran, Jakarta : Indeks

S.P. Hasibuan, Malayu, Drs. 1996, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta : PT Toko Gunung Agung

Wursanto, Ig, Drs. 1995. Etika Komunikasi Kantor, Yogyakarta : Kanisius